Tuesday, May 11, 2010

KELEBIHAN LU' LU' DAN MARJAN (BATU KARANG)...

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
21. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Dua lautan telah bertemu sebelum penciptaan dan keduanya akan bertemu lagi setelah penciptaan. Laut yang satu berair murni, sementara yang lainnya berair asin. Air lezat yang berasal dari gunung dan sungai tidaklah bercampur dengan air asin.

Lautan di sini bagaikan dua keadaan yang bertemu, keadaan terjaga dan tertidur, dua lautan syariat dan hakikat, dua lautan makna dan indera. Bagian-bagian fisik dan non-fisik dari kehidupan manusia mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Hukum hakikat bergantung pada kepasrahan, keimanan, yang akan membawa manusia menuju suatu keadaan keyakinan yang sebenar-benarnya (haqq al-yaqin). Hukum syariat mengikat manusia pada lima rukun Islam. Ini sangat penting, karena manusia berada dalam lautan indera duniawi yang menggoda.

Bagaimana manusia bisa mengingkari anugerah dua lautan lahiriah dan batiniah? Keduanya akan bertemu seperti sebelumnya. Pada waktu penciptaan, keduanya adalah satu. Pada saat kematian, keduanya akan menyatu lagi. Dalam realitas ini, yang membuat keduanya terpisah adalah rahmat ganda Allah.

Selama hidup ini, ada penghalang yang tak tampak, suatu batas antara sebuah dualitas nyata yang tidak memungkinkan lautan untuk bertemu. Demikian pula, matahari dan bulan mengikuti suatu perhitungan—bi husban. Keduanya datang dari sumber yang satu dan kemudian dilemparkan ke angkasa menjadi dua. Dengan bergerak sesuai dengan pola tertentu yang kompleks, keduanya akhirnya akan menyatu lagi. Ada batas antara keduanya yang tetap memisahkannya, seperti halnya tubuh seseorang tampak terpisah dari ruhnya.

Ada hati atau kalbu (qalb) yang berasal dari kata qalaba, yang berarti berpaling, dan ada ruh. Karena terpisah dari dunia, ruh berhubungan dengan keadaan sebelum penciptaan dan, karenanya, bisa memberikan ketenangan kepada manusia. Tidak seperti ruh, qalb dapat dikuasai oleh dunia dalam pengertian material negatif. Hati bisa saja rusak oleh air asin dunia, dan jika memang demikian, maka ruh tidak lagi dapat memberikan ketenangan. Jika nafs telah dimumikan, maka hati dapat berpaling dengan bebas. Hati tidak lagi terperangkap dalam permainan jungkat-jangkit dunia yang terus berlangsung; mengambil nafas dan menghembuskannya, nafas yang diambil adalah udara murni nan bersih, sementara yang dihembuskan tidak. Tidak ada satu pun darinya yang bercampur dengan yang lain. Inilah dua lautan (bahrayn) itu.

Ke mana pun seseorang memandang, selalu ada dua lautan yang dipisahkan oleh sebuah batas yang samar. Lautan pengetahuan dan kebodohan tidak akan bercampur. Kehidupan dan kematian tidak bercampur. Apa pun yang manusia pandang, penciptaan muncul dalam satu dan lain bentuk—disukai atau tidak disukai. Suatu entitas penciptaan dianggap bisa berguna atau tidak berguna. Tidak ada yang melampaui batasan karena ada timbangan (al-mizan). Penciptaan bukanlah kekacauan (chaos), melainkan keteraturan (cosmos).

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ
22. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
23. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Dari lautan bermunculanlah mutiara dan batu karang. Jika seseorang menyelam ke dalam laut, permata-permata menakjubkan itu bisa dilihat. Kata jawhar memiliki arti permata. Kata ini juga bisa berarti hakikat atau esensi. Jika seseorang menginginkan esensi dari lautan itu, maka ia harus mendapatkan Jawahir-nya, permatanya. Akan tetapi, menyelam untuk memperoleh permata-permata itu sangatlah berbahaya, sebab orang bisa saja terluka oleh barisan batu karang.

Pembentukan mutiara adalah suatu tindakan penolakan. Bahan mutiara adalah serat dari kerang yang digunakan untuk membalut dan membuang butiran pasir yang memasuki tubuhnya. Inilah bahan yang digunakan untuk memutuskan dan membuangnya.

Sementara itu, batu karang (marjan) dibentuk dengan proses sebaliknya. Marjan adalah substansi di mana binatang-binatang berdiam dan melindungi diri, dan ditinggalkan. Karena itu, satu struktur dibentuk oleh daya tolak, sementara struktur lainnya dengan daya tarik.

Proses pemikiran itu berjalan dengan penolakan maupun dengan daya tarik. Apa pun yang terlintas dalam pikiran manusia—bila bukan sesuatu yang ingin dilupakannya—adalah sesuatu yang ingin didengarkan dan dimiliki lagi. Manusia berayun-ayun di antara dua sisi mizan, mutiara dan karang.

Setiap manusia terus-menerus terombang-ambing di antara sesuatu yang ia inginkan dan sesuatu yang tidak ia inginkan. Sang pencari mencintai orang-orang ahli tauhid. Ia mencintai orang-orang yang ingin melihat Allah, dan ia menghindari orang-orang kafir atau ahli kekufuran (kufr). Ia menginginkan berita gembira bahwa Islam akan jaya di dunia ini. Ia ingin mendengar berita gembira bahwa anak-anaknya tumbuh dengan baik—dan bukan berita buruk bahwa anak-anaknya menjadi tersesat. Manusia terus terombang-ambing antara ingm dikelilingi oleh hal-hal yang diinginkannya, dan menolak dan melepaskan diri, seperti kerang, dari apa yang tidak disukainya. Hal-hal yang bertentangan ini timbul dari akar yang sama. Keduanya adalah entitas yang khas dengan asal-usul yang sama dan menjadi tempat kembali baginya.

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ
24. Dan kepunyaan-Nya sajalah bahtera-bahtera yang tinggi layamya di lautan laksana gunung-gunung tinggi menjulang.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
25. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Baik 'alamah, yang berarti tanda, maupun 'alam, yang berarti bendera, berasal dari akar kata yang sama, 'ilm (ilmu atau pengetahuan). Semuanya itu menyiratkan sesuatu yang diketahui. Munsya'at, yang akar katanya adalah nasya'a (menciptakan), sudah menjelaskan maknanya sendiri dengan sangat jelas. Segala sesuatu yang mengambang adalah milik Allah. Fenomena mengambang, dan juga keseimbangan interaksional menyeluruh yang menimbulkan berbagai situasi yang tidak diinginkan, seperti kapal mengambang di lautan, adalah milik Allah.

Renungkan bagaimana situasi-situasi tertentu sering kali bertentangan dengan apa yang diharapkan oleh seseorang. Misalnya saja adalah bagaimana suatu kapal yang terbuat dari baja bisa mengapung di atas air. Kapal mengambang karena adanya hukum-hukum yang dapat ditunjukkan dengan mudah oleh para ilmuwan. Akan tetapi, hal itu tetap saja aneh. Semua yang dilihat oleh seseorang, semua proyeksi Tuhan Yang Mahabenar ini, semua yang memijarkan pengetahuan atau pengalaman, pada akhirnya bakal menghilang karena semuanya itu berada dalam dimensi waktu.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
26. Semua yang ada di bumi itu bakal binasa.

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
27. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu, yang mempunyai keagungan dan kemuliaan.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
28. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Apa pun yang ada di muka bumi ini, apa pun yang berbentuk fisik, keras, tampak mempunyai identitas, tidak mempunyai identitas selain Allah—La ilaha illallah, tidak ada Tuhan selain Allah. Segala sesuatu pasti akan musnah. Jika sesuatu itu keras—tanaman atau makhluk—maka ia akan membuktikan takdirnya sendiri. Apa yang tersisa adalah pancuran penciptaan, wajah Tuhanmu (wajhu rabbika). Wajh adalah suatu arah atau wajah, tampilan depan lahiriah. Dalam ibadah formalnya, seorang muslim mesti memiliki perhatian (tawajjuh) dan menghadapkan wajahnya pada tempat aman yang dibangun oleh Sayyidina Ibrahim a.s. di Mekah. Siapa pun yang mengerjakan salat akan menghadapkan dirinya ke sana.

Semua makhluk menghormati sumpahnya; sedap makhluk menghormati Yang Mahamulia—"Tuhan Yang Mahaagung dan Mahamulia" adalah satu sifat Allah, Yang Mahaagung, Mahamulia, Zat Yang memberikan kehormatan. Manusia adalah rnakhluk terhormat, jika saja ia menyadarinya; jika saja ia dapat menyatukan realitas fisiknya dengan realitas bawaannya. Manusia menghormati perjanjiannya dengan kematiannya secara fisiologis. Setiap orang menghormati takdirnya, entah disadari atau tidak.

Manusia melihat, yang terkungkung dalam wajah Penciptaan, af'al, manifestasi berbagai tindakan. Dalam kasus manusia, semuanya itu adalah hasil dari berbagai interaksi antara hati dan nafsunya. Semakin kurang ia disibukkan oleh nafsunya, semakin sibuk ia dengan hatinya. Dengan melihat lebih jauh ke dalam, ada ruh. Jika nafsu seseorang telah dibakar hangus, maka hatinya menjadi aktif dan berdetak; kemudian ia akan diberi makanan oleh sumber kenikmatan—roh.

Orang-orang yang tidak mau pasrah dan tunduk pun mengingkari kenyataan bahwa mereka akan mati suatu saat kelak. Jika Anda memberitahu seseorang bahwa ia beranjak tua dan giginya sudah mulai rontok, maka ia akan mengatakan bahwa ia belum tua dan belum siap mati. Setiap orang beranggapan bahwa usianya masih muda. Ketika Anda berusia dua belas tahun, Anda berpikir bahwa usia lima puluh tahun tahun sudah sangat tua. Anda tidak bisa berbicara akrab dengan orang yang berusia lima puluh tahun. Orang-orang itu aneh buat Anda. Akan tetapi, ketika Anda berusia lima puluh tahun, Anda mengira bahwa usia lima puluh tahun masih muda. Ini karena dalam diri manusia ada gema Zat Yang Mahaabadi.

Akan tetapi, dalam diri manusia juga ada gema nafsu pemberontakan. Manusia menganggap bahwa nafsu bertahan selamanya, sehingga ia tidak ingat akan kematian. Sang pencari sering kali dinasihati oleh gurunya bahwa obat paling mujarab untuk penyakit jiwa adalah mengingat mati. Mengingat mati tidak digunakan untuk melumpuhkan manusia atau untuk membuatnya tidak aktif dan bersikap negatif. Sebaliknya, ini digunakan lebih untuk membuat manusia berhasil dalam segala tindakannya dan membuatnya lebih efisien. Jika manusia terus-menerus mengingat mati, seluruh tindakannya menjadi tulus, tak temoda oleh keserakahan, kesombongan, balas dendam pribadinya, atau sifat apa pun juga yang mencerminkan nafsu rendah.

Wajah Tuhan semula adalah suatu hubungan eksistensial antara manusia dan Tuhan Yang Mahabenar. Manusia ingin sehat. Ia ingin bersahabat dengan orang-orang baik, dan ia ingin berada dalam suatu lingkungan yang akan membantunya menyelam lebih jauh dalam pengetahuan tentang Tuhan Yang Mahabenar yang tak berbatas. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin besar pula hasrat untuk lebih mengenal Allah. Janganlah seseorang beranggapan bahwa, setelah mengetahui Allah, ini berakhir sampai di situ. Tidak ada awal atau akhir pada Tuhan Yang Mahabenar. Seorang yang sangat mengenal Allah ('arif billah) adalah orang yang telah memiliki jendela terbuka untuk melihat Tuhan Yang Mahabenar. Semakin ia mampu melihat keluar dari jendela itu, semakin ia melihat Tuhan Yang Mahabenar.

Sebagaimana halnya setiap orang mengalami kelahiran fisik, maka begitu pulalah setiap orang mengalami kebangkitan spiritual, yang terjadi seiring dengan waktu. Sebagaimana halnya manusia dulunya adalah anak kecil, maka begitu pulalah ia adalah anak kecil dalam pengetahuan Allah. Tidak ada akhir bagi Tuhan Yang Mahabenar. Sebab, Tuhan Yang Mahabenar meliputi masa sebelum dan sesudah penciptaan.

"Dan tetap kekal wajah Tuhanmu, yang mempunyai keagungan dan kemuliaan." Alquran mengatakan bahwa satu hari di sisi Tuhan sama dengan seribu tahun waktu manusia; dan perhitungan ini dibuat dalam hubungannya dengan kerangka waktu dunia ini. Sementara itu, sejauh menyangkut hubungannya dengan alam akhirat, satu hari di sisi Tuhan sama dengan lima puluh ribu tahun. Karena itu, setiap hari sama dengan lima puluh ribu tahun. Waktu jelas bersifat relatif. Hari adalah periode waktu, dan tidak harus rentang waktu dua puluh empat jam yang diukur sebuah mesin aneh bernama jam.

يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
29. Semua yang ada di langit dan bumi selalu memohon kepada-Nya. Setiap hari Dia berada dalam kesibukan.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
30. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Allah adalah Tuhan manusia. Ketuhanan adalah sumber pancaran tindakan. Ketuhanan bersifat memelihara, melindungi, dan menjaga. Tuan rumah haruslah menyiapkan setiap aspek dalam rumah, setiap sya'n, setiap urusan. Tuan rumah mesti menjaga perabotannya—perawatannya dan sebagainya—dan juga seluruh aspek perangkat lunaknya: orang, anak-anak, dan makanan, sama seperti Tuhan menjaga makhluknya. Kapan saja, setiap urusan datang kepada-Nya. Ketuhanan adalah memperhatikan segala urusan. Bila tidak demikian, tidak bakal ada tauhid. Tauhid adalah satu inti yang darinya memancar seluruh jaringan yang saling berhubungan satu sama lain.

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...